Updated : Sep 06, 2019 in F1

Manor Belum Siap Juara


Jika tidak tersedia rusaknya pada mobil Rio, tema tren minggu ini tentu tidak bakal berubah berasal dari debut Rio Haryanto ke F1 Melbourne. Sementara itu, perang pendapat berganti di fasilitas sosial. Pendukung dan pembenci Ahok condong terima gencatan senjata. Demikian pula, serangan pada pendukung Tour De Java VS Blusukan dan rumah berhantu tentu mati. Namun sayangnya, Rio belum miliki momentum untuk perlihatkan kemampuannya dan pada selagi yang serupa mengumpulkan permusuhan di atas. Rio kudu segera menjadi pusat perhatian dikarenakan harapan baru untuk F1 adalah harapan publik untuk Rio. Rio memang luar biasa, sebagai pemula di F1 terlalu kemungkinan bahwa ia mampu menyalip pembalap senior di F1. Itu mampu dilihat di 18 lap yang tengah dikonsumsi selagi ini, tidak kalah dengan pembalap lain. Namun sayangnya Manor belum siap untuk buat persiapan keberhasilan bagi pembalap layaknya Rio.

Memang, kasus kebocoran minyak udah nampak di sesi pra-musim di Barcelona, ​​dan terlalu disayangkan bahwa kasus kebocoran minyak hari ini kudu menghentikan laju Rio. Indonesia kecewa, Rio terhitung kecewa, untungnya dia tetap mampu tersenyum. Sebuah isyarat keindahan dan ketenangan di Rio yang ahli secara mental namun tetap sederhana. Jika Team Manor berada di kelas yang serupa dengan tim lain, kemungkinan sejarah bakal berbeda. Tapi itu terhitung betapa istimewanya Rio. Dia berada di tim Manor yang entah bagaimana mampu mengendarai mobilnya layaknya Metromini. Seharusnya tidak heran, gubernur sebagus Ahok, sejauh ini ia belum mampu seluruhnya memoles Metromini. Pengemudi yang gegabah, mobil berkarat, kursi penumpang dan pengemudi tanpa baut terikat dengan ban karet, belum kembali kasus manajemen dan banyak pemilik yang membuatnya begitu sukar untuk dipersatukan.

Tapi Rio adalah Rio, pengenalan F1 adalah pencapaian yang terlalu luar biasa. Hanya 22 pembalap yang tersedia di sana selama lari. Dan Rio adalah tidak benar satunya. Saat mengutip wakil presiden, lebih ringan menjadi presiden daripada menjadi pembalap F1. Selain menjadi gubernur dan bupati, tentu lebih mudah. Dengan harapan yang terlalu tinggi, Rio didampingi (mayoritas) orang Indonesia untuk bersaing di arena F1. Tapi layaknya kata bijak, keberhasilan kudu disertai setidaknya 3 hal: kesempatan, kemampuan, dan kebahagiaan. Pertamina mengimbuhkan berkah kepada rakyat Indonesia dan terhitung dengan bisnis keluarga Rio peluang ini untuk Rio, dan hari ini Rio udah tunjukkan kemampuannya, yang tidak kudu diragukan lagi, namun untungnya ia belum memihak dikarenakan rintangan yang tim Manor tidak mau buat persiapan gunung yang cocok untuk Rio.

Saya adalah tidak benar satu pendukung Rio yang kecewa, jujur, aku miliki sesuatu yang negatif tentang tim Manor dikarenakan perihal ini. Sesuatu bahkan mampu disembunyikan berasal dari tim Manor. Tetapi aku terlalu suka memandang kinerja Rio hari ini, terlalu menjanjikan, terlalu menjanjikan. Bukan tidak kemungkinan acara hari ini adalah peristiwa untuk menyempurnakan Rio berasal dari faktor psikologis meraih keberhasilan di jaman depan. Dan terkecuali masalahnya tetap di tim Manor nanti, ini tidak mampu menghalangi keberhasilan Rio. Percayalah, Rio bakal menemukan semuanya dan semua orang yang dia butuhkan untuk berhasil, sesuatu yang terlalu layak dan udah didedikasikan untuknya.

Sama layaknya gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama tentu bakal meraih posisi itu, meski tersedia banyak usaha pihak untuk menyingkirkannya. Ahok tidak coba untuk menjadi gubernur lagi, namun ketua gubernurlah yang tidak menginginkan orang lain mendiami dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *