Updated : Sep 05, 2019 in Basket

Meningkatnya Animo Para Pelajar Terhadap DBL


Stroke, narkoba, booming motor, riak, pemerkosaan, anak jalanan dan penjahat lainnya tetap menjadi persoalan utama dan menjadi perhatian pemerintah, khususnya pejabat pendidikan. Usia umumnya pelaku tetap tergolong kecil atau remaja. Hanya tersedia sebagian yang tersisa di sekolah. Betapa rumitnya persoalan itu agar itu bukan solusi lengkap didalam sebuah institusi yang disebut sekolah, yang merupakan ruang dan pas bagi siswa untuk belajar bagaimana berhasil didalam kehidupan dan kehidupan. Ruang kelas bisa menjadi ruang yang bikin jadi bosan bagi siswa dikarenakan misi mereka untuk mengajar anak-anak di negara ini. Selama minggu ini (17-22 Februari 2014) Sulawesi Utara mengadakan acara di Manado dengan siswa dari seluruh Sulawesi Utara. Developmental Basketball League (DBL) atau kompetisi bola basket pada siswa sekolah menengah / siswa adalah nama Iven.

Kegiatan DBL tidak cuma dicatat di Manado di 25 kota besar di Indonesia. DBL telah diawali sejak 2004 dan Surabaya adalah kota pertama dengan kompetisi bola basket antar siswa. Pada tahun 2014, DBL memasuki tahun ke-11. Dari tahun ke tahun, penerapan DBL menjadi magnet bagi siswa sekolah menengah di seluruh Indonesia. Pada 2013 tersedia 650.000 penonton DBL di 23 kota. DBL benar-benar telah merebut hati para siswa yang menyukai bola basket. Klik pada Development Basketball League 2014. Untuk Info lebih lanjut. Meningkatnya minat siswa pada DBL membawa dampak saya penasaran. Mengapa DBL benar-benar populer di kalangan siswa dan sekolah? Saya tertarik untuk mencari tahu. Secara khusus, dua tahun lalu, DBL melebarkan sayapnya di tingkat junior dengan nama JRBL (Junior Basketball League).

Seri DBL Sulawesi Utara 2014 mengunjungi perguruan tinggi / sekolah bisnis dari Manado, Minahasa Selatan, Kotamobagu, Minahasa, Minahasa Utara, dan Tomohon. Implementasi tertentu dari acara DBL Sulawesi Utara pada tahun 2014 (termasuk di kota-kota besar lainnya di Indonesia) bukan cuma dikarenakan dicari oleh mitra resmi, pemasok, dan penyiar sebagai sponsor formal DBL, tetapi dikarenakan dianggap oleh banyak pihak. sekolah, kesibukan ini benar-benar positif bagi siswa yang membangun karakter. “Anak-anak belajar banyak dari acara bola basket DBL yang diadakan setiap tahun. Dari para pemain, dewan siswa, sekolah-sekolah dan masyarakat, “kata Tommy Moga, siswa bagian dari Lokon.

Dijelaskan bahwa nilai-nilai dari kesibukan bola basket ini (mau tidak mau) melibatkan membangun tim bola basket yang solid. Kombinasi konsistensi, keterampilan, konsistensi, disiplin, dan rasa was-was bakal Tuhan adalah prioritas didalam persiapan tim yang unggul. Selain itu, OSIS juga telah belajar bagaimana mengatur teman-temannya sebagai pengikut. Peran pendukung didalam memunculkan motivasi kompetisi tim dipantau secara ketat oleh Dewan Siswa. Tidak cuma itu, perang antar suporter juga dikehendaki dengan membangun konsistensi didalam slogan-slogan yang berteriak sepanjang pertandingan.

“Bimbingan spiritual layaknya bersikap sporty, bermain adil, militan, berani memilih, berkorban, kompak, saling menolong tersedia melalui kesibukan DBL ini. DBL 2014 tidak cuma berkutat dengan tim bola basket. Sekolah yang melakukan tindakan sebagai mitra tim sepanjang Juga diperdebatkan, tim lari 3X3 yang bermain di tengah jalan, kompetisi wartawan juga diadakan, kompetisi ribut dan foto sepanjang kompetisi, dan yang paling perlu adalah bahwa acara DBL ini sebetulnya melibatkan banyak siswa, “lanjut Tommy.

Billy Wuling, presiden dewan siswa, menyatakan kepada saya bahwa teman-temannya mengurus transportasi ke pendukung (Tomohon-Manado pp), kaos dua warna untuk menolong setiap pertandingan, tiket masuk ke arena Koni GOR, balon pendukung, spanduk, spanduk untuk mengimbuhkan pengikut. “Ya, masalah, capek dan biaya tinggi, tetapi seluruh ini mengingat kemenangan tim kami,” kata Billy sambil menghela nafas, mengingat bahwa 600 siswa wajib diorganisir oleh OSIS untuk menjadi pendukung.

Setiap kali tim sekolah (anak laki-laki dan perempuan) bermain di Manado, pecinta pergi setidaknya dua jam sebelum kompetisi yang dijadwalkan. Ini dikarenakan rute Tomohon-Manado tetap rusak setelah sebagian tanah longsor berjalan di Tinoor (15/1) seiring dengan bencana banjir di Manado. Semua bus berjalan melalui Tanawangko, rute selatan ke Manado, dan dibutuhkan kurang lebih 2 jam jikalau tidak tersedia kemacetan di jalur Kalasey, Malalayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *